Bara Api
Bara Api
Sebelum adzan ashar berkumandang, dia telah lebih dulu beranjak dari istirahatnya, melipat selimutnya, mengambil pakaian suci dan bergegas mengencangkan ikatannya pada tuhan.
Sebelum yang lain bisa melihat jalan di depan, dia telah memakai pakaian usangnya, memakai topi kokohnya dan menyiapkan peralatannya, dia tidak bicara, namun semua yang dikenakannya seolah berkata, "Aku telah melewati banyak masa, dan bersiap melewati masa berikutnya."
Langkahnya menapak tegas pada tanah di sela rumput liar, kakinya menginjak duri-duri bencana menyisakan luka bahan bakar kuatnya, matahari melotot tajam pada punggungnya menyelimuti kulit kerasnya menjelma perisai tebal untuk hidupnya, tangannya mencengkram cangkul dengan kuat seperti kuatnya prinsip hidupnya.
Dia menghantam tanah dengan cangkulnya membersihkan rumput liar agar tak merusak pada tanamannya, dengan nafas yang terengah-engah, langkah yang terasa makin lelah namun dia terus menyelesaikannya, tak ingin tanaman yang selama ini dia rawat dicemari dengan hama.
Usianya sudah hampir lima puluh tahun, namun semangat dan tekadnya tetap ditempa dengan tekun, aku yang muda tertegun dengan caranya, aku kira dia akan duduk memanjakan lelahnya, ternyata dia terus bergerak dengan senyumnya.
Dia berkata, "Sebelum tubuh lelah dimakan usia, lanjutkan tugasmu nak, kau muda, kau membara."
Aku menjawab baiklah, namun dalam hatiku berkata..
"Sebelum engkau lelah, aku akan menyelesaikannya"
"Sebelum engkau tua dimakan usia, akan kuberi bahagia"
"Kita akan sama-sama tiada, namun sebelum itu terjadi, aku akan memberikan segalanya"
"Istirahatkan badanmu, berikan bebanmu, usir lelahmu, dan sambung do'amu kembali pada tuhan"
"Biarkan aku merasakan gilirannya, namun aku minta..
"Sebelum ini semua, pinjamkan aku api semangatmu ayah.."
NaufalZain_
02, Oktober, 2026



Komentar
Posting Komentar