DUA WARNA
Dua Warna
Sudah sepekan lebih kau tak kutemui,
Entah pendidikan, kesibukan, atau hiburan yang menghalangi,
Kukira kau sakit, ternyata kau sedang tersenyum dan tertawa sembari membawa cita-cita yang kau rakit,
Sudah tebal debu yang menyelimuti tempat kita,
Kutunggu kau di bawah pohon sana, yang kita anggap milik bersama,
Hingga senja tiba, aku tidak melihat cirimu, daun-daun dipohon juga bertanya hal yang sama,
Esok siang hari terakhir kita berkumpul bersama, ya.. di tempat dan waktu yang kau anggap milik kita,
Semuanya bahagia dan tertawa sembari menikmati sisa-sisa waktu ini, kukira kau tidak akan datang lagi atau kau sudah lupa pada kawan-kawan seperjuanganmu ini,
Alih-alih suara tawamu terdengar, ternyata benar, kau benar-benar datang, dengan mimik wajah dan senyuman khasmu itu tak lupa dengan celana dua warnamu yang kau banggakan,
Kau ucap, "jalan kita sekarang berbeda kawan, kita akan bertemu lagi di masa yang lebih cerah namun tetap dengan kerendahan hati yang guru kita ajarkan." aku pun menjawab, "harus, kita harus berubah namun tetap menggenggam kerendahan hati."
Sebulan setelahnya, kita sama-sama mengejar impian, jauh, namun ini demi masa depan, ucapan dan tawamu waktu itu tidak seperti biasanya, lebih terdengar sepeti "paku yang terakhir kali dipukul, sakit tapi kuat."
Siapa kira, kini dirimu terbujur lemas, tawamu sudah tidak lagi terdengar, senyum khasmu itu juga tidak lagi terlukis, ucapanmu waktu itu masih menyimpan semangat, namun juga menyisakan sisa-sisa ikhlasmu, hingga sekarang,
Ini hanya sebaris keluh, dari kawan kecilmu, namun jauh dalam relung hati aku yakin, kau membaca sambil tersenyum seperti biasa, sangat jelas terlintas, meski jauh kau tersenyum juga kan.. Bakrie?..
Kapan-kapan kita pasti akan berjumpa, tertawa bersama seperti biasa, menikmati warna yang tak seberapa, tunggulah, disini hanya sebentar.
NaufalZain_
01, Juli, 2026



Komentar
Posting Komentar